Terapi Ion Detox Tidak Membawa Manfaat

Infowanita.com - Terapi ion atau aqua detox dilakukan dengan cara merendam kaki ke dalam 'foot spa' yang berisi air yang mengandung garam selama 30 menit. Air yang mengandung garam kemudian akan hangat karena dialiri oleh aliran listrik bertegangan rendah melalui sebuah "array" yang berbentuk bulat berwarna gelap terletak ditengah-tengah foot spa.
Terapi ini diklaim dapat mengeluarkan racun-racun yang terdapat dalam tubuh dengan cara ionisasi, yaitu dengan membentuk ion negatif yang akan beresonansi sehingga menarik keluar kelebihan ion-ion positif dalam tubuh. Hasilnya setelah 30 menit warna air jernih lama kelamaan akan berubah menjadi keruh misalnya kuning, orange, coklat hingga kehitam-hitaman. Warna kuning menunjukkan gangguan berasal dari ginjal, warna hijau berarti ada gangguan di empedu, hitam berarti dari ginjal, atau jika kuning berlemak berarti memiliki ganggguan kolesterol tinggi.
Menurut para pihak penjual maupun produsen seperti Aqua Detox International bahwa perubahan warna ini terjadi karena racun tubuh keluar melalui pori-pori kulit kaki, racun-racun tersebut keluar dan merubah warna air rendaman. Mereka juga mengklaim bahwa dengan cara detoksifikasi ion dapat meningkatkan fungsi ginjal, metabolisme, dan mengurangi berbagai macam resiko penyakit seperti kanker, diabetes, kelelahan, sakit ketika menstruasi maupun pusing-pusing.
Klaim diatas sangatlah tidak masuk akal. Tahukah anda bahwa toksin dalam tubuh tidak dapat dibuang dengan menggunakan sebuah alat. Ion positif dan ion negatif tidak dapat beresonansi di dalam tubuh dan mengeluarkan toksin. Kulit tidak mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan toksin dalam tubuh. Proses detoksifikasi hanya terjadi di liver. Dari liver, racun kemudian masuk ke dalam ginjal. Oleh ginjal racun akan dieksresikan dalam bentuk urin.
Tahukah anda bahwa terapi ion detoks yang kini banyak populer tidak lain adalah sebuah penipuan terhadap konsumen. Perubahan warna pada air adalah merupakan sebuah reaksi elektrolisis yang sering dijadikan topik umum pada praktikum anak SD atau SMP. Warna air yang merah kekuning-kuningan adalah besi yang telah teroksidasi yang berasal dari elektroda alat tersebut. Bukanlah suatu kebetulan jika elektroda alat ini perlu diganti dari waktu ke waktu.
Hal ini pun dikuatkan oleh penelitian kecil yang dilakukan oleh Ben Goldcare seorang kolumnis untuk "bad science" dari The Guardian (koran di Inggris). Ia menganalisis kandungan zat air sebelum proses detoks dan setelahnya. Kandungan besi setelah ‘terapi' melonjak sangat tinggi jika dibandingkan sebelumnya. Selain itu, tidak ditemukan urea dan kreatinin pada sampel yang dianalisis yang menandakan tidak ada racun yang keluar dari tubuh.
Tidak hanya itu, terapi detoks ion ini juga memiliki resiko karena reaksi ini melepaskan gas Klorin yang beracun dan Hidrogen yang mudah terbakar. Berhati-hatilah jika menggunakan alat ini. Jangan gunakan alat detoks ion pada ruangan tertutup karena gas berbahaya akan terkonsentrasi. Atau lebih baik lagi, jangan gunakan alat ini.
Artikel yang ditulis oleh The Guardian oleh Ben Goldcare telah memberi pengaruh pada beberapa produsen alat detox ion di Inggris. Dan para pemasar alat ini pun mengakui bahwa perubahan warna yang dihasilkan oleh air adalah hasil dari reaksi elektroda dan alat ini pun tidak bisa membantu pengeluaran toksin dalam tubuh. Kesimpulannya, alat ini secara medis belum bisa memberikan manfaat pada manusia.
www.devicewatch.org

